Profil

KARLA SUARA ALAM KOMUNITAS KENARI BALIKPAPAN : Peduli Dengan keberadaan Kenari

Keberadaan komunitas biasanya diawali dari kebersamaan dengan mempunyai satu tujuan visi dan misi. Seperti lesunya kelas kenari pada lomba – lomba reguler di Balikpapan khusunya dan Kalimantan Timur pada umumnya juga kurangnya pebreeder kenari membuat Aswar kenari mania Balikpapan terasa terpanggil untuk ikut kembali menggarirahkan burung mungil tersebut dengan mendirikan komunitas kenari yang diberi nama Karla Suara Alam. Mencoba berafiliasi dengan PAPBURI yang berpusat di Jogja akhirnya secara resmi sejak awal Bulan Februari 2017 PAPBURI cabang Balikpapan didirikan.
“Tujuan didirikannya PAPBURI di Balikpapan adalah agar membangkitkan kembali semangat kenari mania Kota Minyak baik peternakan juga lombanya. Kami sengaja mengumpulkan para pebreeder dan penggemar kenari agar semakin solid. Karena bila solid saya yakin kelesuan kenari perlahan namun pasti akan terangkat, oleh karena itu setiap anggota bisa selalu memberikan ide setiap bulan juga bahan evaluasi agar lebih baik.

Kita akui membangun komunitas lebih mudah daripada mempertahankan,” jelas Aswar sebagai ketuanya.
Dengan ingin mempunyai gelaran khusus kenari seperti di Jogja, Klaten, Solo, Aswar juga mengirimkan beberapa juri untuk belajar sistem PAPBURI supaya bisa diterapkan di Kota Minyak Balikpapan. Tercatat tiap Senin Komunitas Karla Suara Alam mengadakan latihan rutin yang diadakan di kompleks Pasar Segar Balikpapan.
Lambat laun komunitas ini terus berkembang terlihat dari awalnya hanya 5 anggota sampai saat ini menjadi 35 anggota termasuk pengurus komunitas, belum lagi termasuk simpatisan yang tidak terdata. Untuk kegiatan rutin para pebreeder biasanya membahas tentang hasil ternakan, cara mengobati penyakit, mastering sampai harga jual di pasaran. Sedangkan kalau kegiatan anggota yang lomba tentang cara perawatan burung agar bisa stabil dilapangan.
Setelah sayap PABBURI makin mengembang di Balikpapan tantangannya jelas kekompakan tim akan menjadi tolok ukurnya. Juga perlu sosialisasi yang berkelanjutan mengenai tata cara penilaian maupun siklus untuk mengikuti latber rutin dengan menggunakan sistem PAPBURI agar pemain semakin paham. “Tantangannya kedepan kita harus terus bersosialisasi agar sistem PAPBURI bisa diketahui khalayak ramai.

Karena selama ini even-even lomba di Kalimantan selalu menggunakan 60 gantangan atau lebih. Kini, dengan adanya PABBURI Balikpapan para kicaumania bisa memiliki alternatif lain untuk merasakan sensasi lomba yang lebih nyaman dan penilaian yang lebih fokus,” tutup Ancu yang menjabat wakil ketua.

Related Articles

Back to top button