Sikap PBI Soal Permen LKH 20 Tahun 2018, Ketum PBI Bagiya Rakhmadi: Tegas Mendukung Dengan Revisi

Keluarnya Permen LKH 20 Tahun 2018 belum lama ini telah membuat gaduh perburungan nasional. Banyak EO yang merasa keberatan bahkan bakal mengancam demo besar-besaran. Namun berbeda dengan Pelestari Burung Indonesia (PBI) yang menyatakan dengan tegas mendukung penuh Permen tersebut.

de
KETUM PBI: Bagiya Rakhmadi, SH, MM Dukung Permen LKH 20/18

‘’Kami sangat terkejut dengan keluarnya permen ini yang terkesan terburu-buru. Banyak hal yang belum ada jalan keluarnya. Ekonomi kerakyatan akan terganggu. Penangkar, produsen sangkar, penjual burung, penjual pakan semuanya akan terimbas,’’ ungkap Ketua Umum PBI Bagiya Rakhmadi, SH, MM pada press releasenya yang dilayangkan ke kontesburung.com beberapa jam lalu.

Tetapi satu keyakinan yang dipahami PBI bahwa aturan dibuat tentu tujuannya untuk kesejahteraan masyarakat dan kelestarian alam. Karena itu, dalam rangka kesejahteraan masyarakat dan kelestarian alam, PBI ikut berjuang dengan cara-cara PBI sendiri. ‘’Revisi permen menjadi target kami,’’ tukas Rakhmadi.

Beberapa hal yang perlu direvisi menurut pandangan PBI yakni pendataan burung-burung yang dimiliki sebelum permen, pendataan penangkar, izin penangkaran dan izin edarnya. ‘’Semuanya masih dan sedang kami perjuangkan,’’ tegas Rakhmadi.

Jauh sebelum Permen LKH no 20/2018 keluar, PBI sebagai organisasi pelestari burung Indonesia tidak pernah surut memperjuangkan pelestarian sebagai marwah dari PBI. Karena dengan pelestarian maka hobi burung tetap bisa berjalan. Itulah visi dan misi PBI.

de
KETUM PBI: Bersama Para Penggiat Pelestarian, Mr. Baim, D’Yan Samurai, Mr. Fajar, Jhon Dendy

Karya-karya PBI dalam memperjuangkan marwahnya yakni PBI secara bertahap sudah mengurangi jenis-jenis burung asli Indonesia non ring untuk dilombakan di event-event PBI serta tidak memperbolehkan penambahan kelas-kelas baru. Jenis burung branjangan, cucak rowo, jalak suren dan punglor kembang serta terakhir murai batu sudah harus ring atau hasil penangkaran untuk lomba-lomba PBI. ‘’Target kami tahun 2025 lomba-lomba PBI semua harus ring hasil penangkaran,’’ tegas Rakhmadi. Karena itu, sejak dini PBI terus mendorong para penangkar binaan PBI untuk lebih aktif berkreasi dan berkarya demi berlangsungnya hobi burung.

Tidak saja aktif mendorong pelestarian eksitu melalui penangkar-penangkar di tengah masyarakat, juga kontinu melakukan gerakan pelestarian insitu yang dilakukan secara swadaya. Seperti pelepasliaran punglor merah (asal Bali) serta kacer di habitatnya di hutan lindung Gunung Merapi wilayah Girikerto Kecamatan Turi Kabupaten Sleman Jogyakarta. ‘’Alhamdulilah saat ini sudah berkembang biak,’’ ujar Rakhmadi.

Perjuangan PBI dalam visi misinya pada pelestarian juga tampak ketika menggandeng partner penyelenggara lomba yang sangat selektif dengan pihak-pihak yang peduli dengan konservasi. Begitu juga membatasi selesai lomba sebelum pukul 18.00. Serta membatasi jumlah sesi burung asli Indonesia yang bisa dilombakan yakni maksimal lima kali dan 1 jenis burung untuk 1 lapangan.

sa
LEPAS BURUNG: Simbol atau Pesan untuk Ingatkan pada Pelestarian Alam

Itulah visi dan misi PBI. ‘’Biarkan kami yang kecil ini walaupun katanya paling tua berjalan di jalur kami sendiri. Tua bukan berarti pikun karena kami dari awal tetap komitmen pada pelestarian,’’ ungkap Rakhmadi.

‘’Kalau tidak dari sekarang mau kapan lagi, apakah anak cucu kita akan kita warisi MP3 untuk mendengarkan kicauan burung-burung. Obat itu pahit tapi menyembuhkan,’’ sambungnya seraya memohon maaf untuk semua pihak yang tidak sejalan dengan pemikiran PBI. *kb3

Kanary Kraft

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here