nafsa.org scholarship labour scholarship need juliet
Kelas Murai Batu (MB) memang kelas yang paling bergengsi dibanding kelas-kelas burung lain. Di ajang nasional “Piala Presiden Jokowi” yang berlangsung hari ini Minggu [11/3] di Kebun Raya Bogor. Dan hadiah satu unit mobil baru Suzuki “New Ertiga” di kelas utama MB. Membuat kelas ini jadi perhatian Murai Mania Indonesia. Bahkan hampir semua jawara-jawara terbaik […]" /> nafsa.org scholarship labour scholarship need juliet
Kelas Murai Batu (MB) memang kelas yang paling bergengsi dibanding kelas-kelas burung lain. Di ajang nasional “Piala Presiden Jokowi” yang berlangsung hari ini Minggu [11/3] di Kebun Raya Bogor. Dan hadiah satu unit mobil baru Suzuki “New Ertiga” di kelas utama MB. Membuat kelas ini jadi perhatian Murai Mania Indonesia. Bahkan hampir semua jawara-jawara terbaik […]"> Murai Hummer Boyong Mobil Suzuki Ertiga di Piala Presiden Jokowi - Kontesburung.com nafsa.org scholarship labour scholarship need juliet
Kelas Murai Batu (MB) memang kelas yang paling bergengsi dibanding kelas-kelas burung lain. Di ajang nasional “Piala Presiden Jokowi” yang berlangsung hari ini Minggu [11/3] di Kebun Raya Bogor. Dan hadiah satu unit mobil baru Suzuki “New Ertiga” di kelas utama MB. Membuat kelas ini jadi perhatian Murai Mania Indonesia. Bahkan hampir semua jawara-jawara terbaik …" /> nafsa.org scholarship labour scholarship need juliet
Kelas Murai Batu (MB) memang kelas yang paling bergengsi dibanding kelas-kelas burung lain. Di ajang nasional “Piala Presiden Jokowi” yang berlangsung hari ini Minggu [11/3] di Kebun Raya Bogor. Dan hadiah satu unit mobil baru Suzuki “New Ertiga” di kelas utama MB. Membuat kelas ini jadi perhatian Murai Mania Indonesia. Bahkan hampir semua jawara-jawara terbaik […]" />
Connect with us

News

Murai Hummer Boyong Mobil Suzuki Ertiga di Piala Presiden Jokowi

KONBUR Tayang

:

Kontes Burung,Jakarta Piala Presiden Jokowi,Foto Pemenang Mobil

nafsa.org scholarship labour scholarship need juliet
Kelas Murai Batu (MB) memang kelas yang paling bergengsi dibanding kelas-kelas burung lain. Di ajang nasional “Piala Presiden Jokowi” yang berlangsung hari ini Minggu [11/3] di Kebun Raya Bogor. Dan hadiah satu unit mobil baru Suzuki “New Ertiga” di kelas utama MB. Membuat kelas ini jadi perhatian Murai Mania Indonesia.

Kontes Burung,Jakarta Piala Presiden Jokowi,Foto Kelas Murai Utama

KELAS MURAI UTAMA : Full gantangan dan jadi partai panas

mancol.edu/science/biology/plants_new/anatomy/grndd.html My scholarship sheet essay
Bahkan hampir semua jawara-jawara terbaik murai tanah air. Pada hadir untuk bisa memboyong hadiah utama tesebut. Tak terkecuali Hammer besutan Mr.Herry TSI SF dari Jakarta. Gaco lawas sejak tahun kemarin absen ke lomba, karena masuk kandang ternak oleh pemiliknya itu. Ternyata hadirnya di Piala Presiden Jokowi kali ini, benar-benar bikin kejutan.

Kontes Burung,Jakarta Piala Presiden Jokowi,Foto Penentuan Juara

AJUAN NOMINASI JUARA : Untuk menentukan juara

religion discuss reflection nitro.biosci.arizona essay
Lihat saja, selain aksi dan durasi kerjanya bikin semua yang hadir terpesona.  Senjata materi lagu mewah suara rolling burung-burung kecil yang terus dikeluarkan nyaris tanpa jeda plus volum kristal dan tembus. Hammer bukan saja mampu merebut podium pertama. Tapi andalan Mr.Herry ini juga berhasil memboyong 1 unit mobil Suzuki “New Ertiga”

Kontes Burung,Jakarta Piala Presiden Jokowi,Foto Penyerahan Kunci Mobil

HADIAH UTAMA MOBIL : Akhirnya berhasil diboyong oleh Hammer yang diwakili oleh H.Karto

essay potter decals Homeworkcrest Discount for 2019 sheet potter
“Alhamdulillah, meski cukup lama dikandang ternak. Dan baru awal tahun 2018 ini diangkat dan dilombakan. Hammer sudah beberapa kali berhasil merebut juara satu. Dan hari ini merupakan hari yang tak mungkin dilupakan. Karena Hammer sukses mendapat mobil baru dari Presiden Jokowi. Ya mudah-mudahan di sesi berikutnya Hammer masih bisa juara lagi,” tutur H.Karto yang mewakili Mr.Herry menerima kunci hadiah mobil. *tim konbur

News

Burung Kacamata, Sepi di Lomba Rame di Pasar

Published

on

By

Burung Kacamata
Burung Kacamata, Sepi di Lomba namun ramai di pasar.

exam need dawcl exam
Kontesburung.com – Malang, Beberapa tahun ini kelas burung kacamata di arena lomba tidak lagi banyak pesertanya, karenanya belakangan ini banyak penyelenggara lomba yang tidak memasukkan burung kacamata dalam jajaran kelas yang dilombakan. Berbeda dengan saat jaya-jayanya sekitar lima tahun lalu, dimana kelas burung kecil ini selalu penuh meski dimainkan beberapa kali.

burung kacamata
Kacamata lokal asal Lumajang, harga bakalan lebih mahal

Lalu apakah dengan merosotnya kelas kacamata kemudian dagangan burung bakalan ikut menurun?, menurut pengakuan sebagian pedagang bilang memang ada penurunan dibanding saat rame-ramenya dulu. Waktu rame dulu, ratusan bakalan kacamata datang dari beberapa kota bahkan ada yang datang dari luar pulau, dalam waktu seminggu ludes.

Itupun harganya lumayan bagus dibanding sekarang. Tapi kalau dibanding dengan penjualan burung ocehan jenis yang kecil kecil, penjualan burung kacamata cukup bagus dan tetap banyak peminatnya. Buktinya beberapa pedagang di pasar Burung Splindit Malang, selalu mendatangkan secara rutin burung jenis kacamata, karena lebih mudah laku dibanding jenis yang lain.

Burung Kacamata Mataram
Kacamata asal Mataram bodi lebih besar, warna lebih cerah harga lebih murah

Jenis yang datang menurut pedagang sebut saja namanya Rohana, ada dua jenis Kacamata. Yakni jenis lokal yang biasa dipasok dari kota-kota di sekitar Jawa Timur seperti Lumajang, Banyuwangi dan ada yang dipasok dari kota bagian barat Jawa Timur, tapi jumlahnya tidak banyak.

Satunya lagi adalah jenis yang didatangkan dari pulau Mataram Lombok. Antara yang dari Mataram dan Lokal memiliki perbedaan baik dari ukuran, warna sampai harganya. Kalau dari Mataram ukuranya lebih besar, warnannya hijau terang bersih dan harganya lebih murah yakni sekitar Rp 30 ribu per ekor. Sedangkan yang jenis lokal, ukuran tubuhnya lebih kecil warnanya lebih gelap tapi harganya lebih mahal yakni sekitar Rp 40 ribu.

Mengapa beda harganya? Alasan pedagang, untuk burung kacamata lokal, lagunya lebih enak, volumenya lebih kenceng kalau untuk lomba lebih mantap yang lokal. Karena itu ada pedagang menjual dalam kandang hasil seleksian dengan harga sekitar Rp 65 ribu per ekor. Menurut Suhadi yang ditemui kontesburung.com saat memantau Kacamata dikandang Ombyokan, ia mengaku lebih suka beli yang sudah diseleksi pedagang, meski harganya lebih mahal tapi lebih cepat bunyi saat dipelihara.

Menariknya lagi, meski lombanya jarang, ternyata para pembeli bakalan dipasar cukup banyak juga, karenannya pedagang secara rutin mendatangkan bakalan kacamata.

Dan rata-rata pembeli yang ditemui di pasar mengaku hanya untuk peliharaan di rumah saja bukan untuk lomba. “Daripada pelihara love bird lebih enak pelihara kacamata, karena lagunya enak didengar dan rajin, harganya juga murah, perawatan juga mudah, karena pakannya cuma buah pisang atau pepaya, kalau mau kasih kroto atau voer lebih bagus,” terang Suhadi pria asli Malang yang suka berkunjung ke pasar Splindit.

Lanjutkan Membaca

News

Mulai Ngetren, Tebok Krom dan Kayu Asam Jadi Andalan Pedagang

Published

on

By

Tebok Krom Oriq Jaya
Tebok Krom, tampil mewah dan menarik mulai banyak diburu kicaumania

Kontesburung – Sidoarjo, Perkembangan sangkar dan asesoris sangkar ternyata terus berkembangan pesat, hal itu tentunya akan membuat kicaumania yang suka mengkoleksi sangkar unik, langka dan mewah, akan memburunya. Seperti Tebok Love Bird keluaran Oriq dengan motif krom warna silver dan gold. Yang beberapa waktu lalu dibawa oleh pedagang asesoris di lomba Dewa 99 Medaeng Sidoarjo, sempat menarik perhatian love bird mania.

Dia bawa dua buah saja yakni warna silver dan gold, pertama laku yang silver, setelah mau pulang yang gold juga dibeli. Dengan begitu dua tebok yang diproduksi secara terbatas, laris manis. Menurut pedagang asli Surabaya ini, untuk Tebok krom produksi tidak banyak, karena produksinya agak susah, sementara penggemarnya cukup banyak. Meski harganya lebih mahal dari tebok cetakan pada umumnya, peminatnya cukup banyak.

“Jadi kalau kita dapat kiriman beberapa buah, hari minggu dibawa kelomba habis dilapangan, tapi kalau ada yang tahu sudah datang di rumah, biasanya mereka langsung beli dirumah,” ujar pria yang sering bawa dagangan di arena lomba. Barang apa yang saat ini cukup laku? Menurutnya adalah asesoris seperti tangkringan kayu asam, tempat ,minum, krodong atau asesoris lain yang unik dan kualitasnya bagus, dengan harga yang terjangkau.

Tangkringan Kayu
Pak Jo tangkringan, laris kalau bawa yang bagus.

Banyaknya peminat asesoris di lapangan juga dirasakan oleh Bejo, pedagang tangkringan kayu asam asal Surabaya. Pria yang sering mangkal di Pasar Burung Bratang ini sering berdagang keliling dari lomba satu ke lomba lainnya, dan hanya bawa dagangan berupa kayu asam. Karena kayu asam yang dijual kualitas bagus, kayunya lurus-lurus dan tekturnya tebal. Didukung harganya juga relatif murah, maka wajar bila dagangan pak Jo ini selalu jadi jujugan kicaumania yang butuh tangkringan.

Lanjutkan Membaca

News

Waduh! Perdagangan Burung di Splindit Malang Masih Terasa Lesu

Published

on

By

Pasar Splindit
MULAI LESU. Cak Tam, belakangan ini perdagangan burung masih lesu

Kontesburung.com – Malang, Lesunya perdagangan burung bukan hanya terjadi di arena lomba saja, di pasar burung di banyak kota ternyata tak jauh beda. Hanya karena kebanyakan pedagang sudah menjalani profesinya puluhan tahun, ia enggan berganti profesi lain. Seperti yang dirasakan oleh pria yang akrab dipanggil Cak Tam yang berdagang aneka jenis burung di Pasar burung Splindit Malang.

Pria bertubuh besar ini sudah menekuni berdagang burung, sejak pasar Splindit jumlah pedagangnya belum seramai saat ini. Sebagai pedangan yang berkecimpung puluhan tahun ia mengaku pernah merasakan yang namanya jaman enaknya menjadi pedagang burung. Sebelum tahun 2000 an, perdagangan cukup menjanjikan karena jual beli lancar.

Memasuki tahun 2000 an, meski burung impor seperti Hwa Mei, Pok Say, Pek Ling dan lainnya mulai tidak masuk, jual beli burung dibanyak pasar sempat terganggu, namun hal itu tidak berlangsung lama, karena jenis burung lokal yang dimunculkan diarena lomba cukup banyak, seperti Cucak Rante, Decu, Prenjak, Colibry dan lainnya. Sehingga perdagangan burung di pasar tetap bergairah.

Perdagangan mulai terasa lesu setelah muncul Peraturan Mentri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen), tanggal 11 Juli 2018. Yang berisi tentang perlindungan beberapa jenis burung yang selama ini dilombakan dan sudah banyak ditangkar seperti Murai Baru, Jalak Suren, Jalak Bali dan Cucak Hijau. Sejak muncul peraturan itu perdagangan burung hampir drop diberbagai kota di tanah air, termasuk di pasar burung Splindit Malang.

Banyak orang takut beli burung karena takut terhadap sanksi dari peraturan tersebut bila ketahuan memelihara burung yang dilindungi. Meski sudah ada revisi, ternyata menurut beberapa pedagang salah satunya H.Hasan belum berpengaruh positif pada perdagangan burung.

“Saya rasakan selama jadi pedagang burung, ya sejak muncul peraturan itu penjualan burung terasa sepi, meskipun sudah ada revisi dampaknya belum memulihkan seperti sedia kala,” ujar pria yang sudah puluhan tahun menekuni perdagangan Kenari dan Burung Impor pada pada reporter kontesburung.com

Bagaimana dengan perdagangan burung lokal? Menurut Cak Tam sama saja, lesu dan tidak bergairah. Sebagai pedagang yang menyediakan burung muda bakalan, baik yang untuk lomba maupun jenis burung peliharaan lain seperti Beo, Jalak Suren mengaku biasanya setiap hari selalu saja keluar satu dua burung.

Bahkan yang namanye Beo muda setiap hari selalu ada yang laku, sekarang seminggu baru laku dua ekor, begitu juga dengan Jalak Suren, biasanya banyak yang cari untuk Masteran atau untuk peliharaan burung rumahan, tapi sepekan ini burung yang sudah dewasa dan cerewet dijual seharga Rp 500 ribu per ekor belum ada yang terjual.

Kalau burung rumahan sepi, biasanya burung bakalan untuk lomba sebagai penolong bagi pedagang, tapi kali ini, burung bakalan dan burung lomba yang di jual Cak Tam, ikut terseret sepinya penjualan burung, sejak munculnya Permen setahun lalu, padahal lombanya sendiri mulai bergairah. “Harapan kami sebagai pedagang, semoga kedepan ekonomi bisa baik agar lomba burung kembali bergairah dan pembeli burung rumahan kembali normal,” terang Cak Tam.

Lanjutkan Membaca