Tindakan Tegas dan Perbaikan Nasib Juri Bakal Jadi Program Prioritas Benny Mintarso, Ketua Bidang Penjurian Pengwil Jatim

Raport kurang bagus yang disematkan pada jajaran juri di Jawa Timur saat ini membuat Benny Mintarso, selaku Ketua Bidang Penjurian Pengwil P3SI Jawa Timur yang baru merasa harus melakukan sesuatu, sehingga predikat kurang bagus itu tidak sampai menjadi boomerang untuk menjadikan ketua bidang yang dipimpinnya ikut terimbas.

“Ini memang tugas berat, saat ini juri di Jatim keberadaanya dinilai kurang menggembirakan. Saya harus segera melakukan tindakan penyelamatan agar kondisi ini tidak semakin parah dan menjadi kabar buruk bagi masyarakat di Jawa Timur,” terang Benny Mintarso.
Dalam agenda Rencana Kerja Pengwil P3SI Jatim 2019 di Hotel Sahid Surabaya, Jumat 22 Maret 2019, kinerja juri menjadi topik hangat yang dibahas. Banyak informasi yang masuk terkait dengan ulah juri yang sudah keluar dari jalur. Kinerja juri di Jawa Timur sudah mendapat lebel “merah”.

Beragam bentuk pelanggaran yang dilakukan juri, membuat nama korps pengadil ini mengalami fase yang mengkhawatirkan. Memang diakui bahwa tidak semua juri yang dimiliki Jawa Timur melakukan hal demikian, namun setidaknya dari sekian yang melakukan, maka yang lain terkena imbasnya.

Dalam acara Rencana Kerja Pengwil Jatim, ada peserta asal Sampang yang mengemukakan pendapat bahwa selama ini pihak yang sering berulah, dilakukan oleh koordinator dan tingkat yang lebih tinggi. Pemberian bendera pada burung dorong, menjadi sinyal yang sangat mengkhawatirkan.
Peserta asal Jember juga menyoroti kinerja juri. Menurutnya seringkali juri keluar dari kewenangan yang seharusnya jadi tugasnya. Menanggapi hal itu beberapa peserta meminta adanya sangsi yang diberikan kepada juri yang bersangkutan. “Perlu ada solusi dan kalau perlu sangsi, semisal penurunan grade juri yang telah melakukan tindakan salah,” tegas peserta asal Sampang.
Ada usulan lain agar disetiap gelaran, ada pengawas yang tugasnya ketika ada juri nakal, bisa langsung melakukan teguran. Beberapa peserta juga mengusulkan adanya perumus. Selama ini perumus hanya dihadirkan dalam even nasional dan regional, sedangkan latber jarang sekali terlihat adanya perumus. Kondisi inilah yang bisa memicu adanya kecurangan juri.
Benny Mintarso mengaku bahwa selama ini dirinya sudah mengetahui apa yang dirasakan peserta. “Saya berharap agar juri, koordinator dan dewan bisa bertanggungjawab terhadap tugasnya masing-masing, jangan sampai melampaui tugas yang sudah diberikan, misalnya koordinator jangan masuk ke ranah dewan,” terang Benny Mintarso. Lebih lanjut dirinya mengatakan bahwa jangan menaikkan burung dorong karena itu sangat tidak dibenarkan.

Ada lagi pengakuannya bahwa selama ini ada juri yang tidak menghiraukan burung volume kecil, karena pada dasarnya tidak ada aturan yang menjelaskan soal burung volume besar dan kecil, karena aturan yang ada adalah menilai burung berdasarkan pakem. Menindaklanjuti semua itu, akan ada langkah nyata untuk merespon semua yang terjadi. “Mulai saat ini saya akan tegas. Tidak ada toleransi bagi juri yang berbuat diluar aturan AD/ART. Ini semua demi kemajuan hobi perkutut,” kata Benny lagi.
Meski akan melakukan langkah tegas, namun Benny mengaku akan tetap menempuh jalur yang tidak terlalu ekstrim. Artinya pemberian sangsi tidak akan langsung diberikan. Prosedur yang akan dilakukan adalah dengan cara lisan, tulisan dan baru sangsi. Ada proses yang harus dilakukan sehingga keputusan yang diambil benar-benar masih memiliki rasa kemanusiaan. Diharapkan dengan cara ini juri bisa merubah sifat dan mental sehingga menjadi juru vonis yang profesional.

“Saya berharap juri-juri Jatim lebih baik dan nada miring yang selama ini diberikan pada mereka lambat lain akan hilang,” lanjutnya. Pada kesempatan yang sama Benny Mintarso bersama H.Gunawan akan membuat program bagus untuk juri, yaitu memberikan THR. Caranya dengan menggelar lomba untuk juri pada pertengahan bulan Ramadhan
Dimana juri nantinya akan mendapatkan honor dan seluruh keuntungan yang didapat akan diserahkan. Kepada juri. Pelaku dalam kegiatan tersebut adalah juri, mulai tukang tancap, penjual tiket dan panitia, semua juri yang berperan. “Saya berharap pada pelaksanaan lomba THR juri, peserta bisa lebih banyak, ini tugas juri untuk mengahdirkan peserta dalam jumlah besar, karena semakin banyak peserta, maka keuntungan akan semakin besar dan secara otomatis apa yang didapat juri juga banyak,” jelas H.Gunawan.

Rencana pelaksanaan akan digelar di Bangkalan. Gelaran ini adalah dari juri oleh juri dan untuk juri. Selain itu Benny Mintarsih akan mengatur ulang honor yang akan diterima juri. Terutama soal biaya transportasi yang selama ini masih menjadi perdebatan. Ada beberapa juri yang mengaku bahwa biaya transportasi yang diterima, tidak sesuai. Bahkan ada panitia yang menyamakan nilai uang transport terhadap masing-masing juri. Padahal mereka berasal dari daerah yang berbeda.
“Saya akan mengevaluasi besar uang transportasi juri berdasarkan jarak antara lokasi lomba dan daerah asal, sehingga satu sama lain tidak sama. Saya kira ini adil untuk mereka,” harap Benny.



