Selamat Jalan Sahabatku H.Miun

kenangan H.Miun

Inalillahi Wainalillahi Roji’un, pagi tadi tanggal 28 Maret 2020 ada kabar duka dari teman baik, dia mengabarkan kalau tokoh burung Madura H.Zainal Arifin atau yang akrab dipanggil H.Miun telah berpulang ke rahmatullah. Berita ini tentu cukup mengagetkan, pasalnya pria yang dikenal cukup enerjik selama ini tanpak selalu terlihat sehat, hanya saja menurut kerabat dekatnya, beliau meninggal karena komplikasi yang cukup lama.

Penulis yang kali pertama kenal dengan H.Miun sekitar tahun 1994, punya banyak kenangan bersama beliau. Dulu saat Madura belum mengenal lomba burung, (taunya lomba perkutut) H.Miun lah yang mencoba mengenalkan lomba burung berkicau dipulau Madura, dengan menggandeng tokoh PBI di Surabaya, saat itu Hartono Kristal, Kho Sui (Encik) dan lainnya, H.Mi’un mengajak menggelar lomba di Bangkalan.

Awalnya tidak ada yang mau, karena saati itu penggemar burung di Madura masih sepi, kalau lomba sepi pasti rugi. Tapi dengan kebijakan Hartono Purnomosidi bos pakan burung Kroto Kristal saat itu, diamini kalau rugi dia yang nanggung. Akhirnya lomba lokalan pertama digelar dengan satu lap disebuah lapangan bola yang berada ditengah kampung. Hasilnya lumayan ramai, meski yang meramaikan banyak kicaumania asal dari Surabaya, Gresik dan Sidoarjo. Sementara peserta dari Madura khusunya Bangkalan belum banyak apalagi dari kota sampang, Pamekasan dan Sumenep juga hanya beberapa orang saja.

Tahun berikutnya, Mi’un yang saat itu sudah terjun sebagai pemain dan sering meluruk lomba diberbagai kota, dengan mengajak anak istrinya, tak patah semangat. Digelar lagi lomba satu lapangan tahun berikutnya. Lagi lagi responya cukup bagus meski yang hadir kebanyakan masih dari Jawa. Karena hubunngan dekatnya dengan tokoh PBI (waktu itu yang menggelar lomba masih hanya PBI), Mi’un hampir tiap tahun bisa gelar lomba. Waktu itu yang jadi masalah keterbatasan juri, kalau tidak diberi juri tidak bisa gelar lomba.

H.Miun dengan trophy kejuaraanya

Sekitar tahun 1996 an atau lebih, pria penggemar burung fighter ini menggelar lomba yang cukup fenomenal disebuah perumahan yang baru dibangun dengan hadiah berupa Rumah. Gebrakan lomba hadiah rumah ini tentu saja bikin geger saat itu, karena belum ada lomba memberikan hadiah sebesar itu. Sehingga banyak kicaumania yang mendengar ada lomba hadiah rumah, maka berduyun duyunlah kicaumania bukan dari kota kota dijawa timur saja, tetapi juga banyak yang dari Solo, Semarang dan Jogja turun lomba di Bangkalan.

Sejak kesuksesan lomba besar itulah, akhirnya ada beberapa tokoh Madura yang tertarik menekuni hobi burung berkicau.  Dan dalam perjalanan waktu, setelah itu sekitar tahun 1997 dengan kedekatan H.Mi’un dengan para pengurus PBI Jatim yang waktu itu di ketuai Pak. Stany Soebakir, Bisa ada cabang PBI ditiap kota di Madura. Kembali lagi saat itu ternyata pengurus cabang sering tidak aktif dan jadwal sering tidak tergelar, hanya Bangkalan dan Sumenep yang waktu itu konsisten menggelar lomba.

Dan H.Mi’un bukan hanya sebagai pendobrak lomba saja di Madura, tetapi dia termasuk salah satu juri peratama Madura saat itu. Penulis ingat waktu itu sekitar tahun  1995 ia minta kepada Kho Sui sesepuh juri PBI untuk dibina cara menjuri, dan dipenui oleh Kho Sui dengan mengawali sebagai keliling lapangan ikut dampingi korlap, setelah cukup lama akhirnya baru diturunkan sebagai juri muda.

Sebagai sosok yang loyal pada PBI, ia sangat bersemangat ingin meramaikan perburungan di Madura dengan lomba, meskipun saat itu sering rugi. Tapi keinginan H.Miun tak pernah pudar, sampai akhirnya ia mendaftarkan juri juri baru untuk dididik PBI pun terwujud, akhirnya muncul juri juri muda didikan PBI yang sangat bagus bagus dan berdedikasi tinggi menjadi andalan PBI saat itu. Dalam perkembanganya dari juri juri PBI itulah banyak yang keluar bergabung dengan organisasi penggelar lomba lain seperti LKMI yang waktu itu juga menjadi penggelar lomba selain PBI.

Setidaknya sejarah telah mencatat, upaya dan perjuangan yang cukup tinggi dari sosok yang low profil tapi keras dalam memegang prinsip tidak sia sia, Madura sekarang memiliki penggemar burung yang sangat banyak, bahkan kalau menggelar lomba lokal tanpa dihadiri kicaumania dari jawa sudah bisa ramai luar biasa. Perjuanganmu telah terwujud kawan, Selamat jalan sahabat, semoga dosa dosamu diampuni dan semua amal kebaikan diterima, dan engkau mendapat tempat yang terbaik disisi Allah SWT. Aamiin. Wahyu Dwi Widodo

Kanary Kraft

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here