Pecinta Burung Beraksi, Puluhan Punglor Merah Dilepasliarkan di Selat Duda Karangasem

Karya besar bermula dari hal-hal kecil. Hasil yang besar bermula dari usaha kecil. Daripada berpangku tangan melihat nasib punglor merah di alam yang semakin menyusut, pecinta punglor merah Bali melakukan gerakan social pelepasliaran punglor merah di habitatnya di wilayah Desa Pekraman Duda Karangasem Bali.

sa
PENGUMUMAN: Pengumuman Seperti Inilah yang Sering Dijumpai di Desa-Desa Habitat Anis Merah di Bali

Para pecinta punglor merah tersebut berasal dari berbagai komponen masyarakat penghobi burung di antaranya Toilet BC, Taksu Bali, Tabanan BC, Gantangan Anyar Persada, Anis Merah Petang, dan didukung penuh seluruh PBI cabang dan PBI Bali, BKSDA Bali serta masyarakat Desa Pekraman Duda Karangasem.

sa
PESERTA YANG HADIR: Dari Berbagai Komponen Masyarakat

Gerakan pelepasliaran punglor merah rutin dilakukan sejak beberapa bulan lalu, sudah pernah melepasliarkan di Petang Badung dan di Karangasem. Pada Sabtu, 29 September 2018, para pecinta punglor merah ini kembali melepas puluhan punglor merah di alam Desa Pekraman Duda Karangasem Bali, yang dulu pernah menjadi sentra punglor merah terbaik di Bali. Burung yang dilepas ada berjenis kelain jantan dan betina dalam kondisi siap berkembang biak.

sa
AMAR: Mendukung Penuh Pelepasliaran Punglor Merah

Para peserta yang ikut melakukan aksi kali ini di antaranya Made Sendra dari Gantangan Anyar Persada yang menyumbang nasi bungkus, Wayan Ari Purwanto dari Tabanan BC, Putu Manuaba dari Taksu Bali, Andre Beruang dari Anis Merah Petang, Agus Kicau Bali, Ngurah Gobang, I Pt Abdi, Jro Artha, Ngurah Purnawirawan (Jik Cekol), Made K Suryana, Krisna Satyanda dari Toilet BC, Made Darma dan Wayan Sudiarta dari BKSDA Bali, Agus Marga dari PBI Tabanan, Amar Pandawa dari PBI Bali, serta tokoh Desa Pekraman Duda, pecalang, LPD Desa Adat Duda, prajuru banjar dll serta disaksikan masyarakat setempat.

Aksi yang akan terus berlanjut dan diharapkan anggotanya semakin banyak didukung oleh Agus Marga yang telah menyisihkan dana 500 ribu, Mr. Fajar Bali 5 juta, serta sumbangan burung punglor merah dari kicau mania Bali. Komunitas pecinta anis merah ini, ungkap Jik Cekol diharapkan terus berkembang dan menjadi komunitas bersama. Jik Cekol meyakini, masih banyak punglor merah yang dirawat penghobi burung yang tidak dipakai lomba. Burung-burung inilah yang sebaiknya dikembalikan lagi ke alam. ‘’Kami akan mempertanggungjawabkan bantuan yang sudah masuk dan berharap mari bersama-sama wujudkan gerakan pelepasliaran punglor merah secara berkesinambungan,’’ harap Jik Cekol.

sa
AGUS MARGA: Makin Bersemangat Lepas Burung

Aksi yang luar biasa para pecinta punglor merah yang menginspirasi para kicau mania disambut positif Ketua Pengda PBI Bali Mr. Fadjar Soebagio. PBI yang komitmen sejak kelahirannya 45 tahun silam membawa missi pelestarian siap mendukung penuh. ‘’Mari hobi yang kita tekuni bisa memberi manfaat positif bagi alam ini. Kalau tidak sekarang beraksi mau kapan lagi,’’ ujar Fadjar Soebagio yang mengacungi jempol rekan-rekan komunitas punglor merah Bali.

sa
LINYO: Menunggu Aksi Berikutnya

Ketua PBI Cabang Tabanan Agus Marga yang terlibat langsung di lapangan menekankan, selain pelepasliaran yang akan terus dilakukan oleh komunitas punglor merah Bali, juga bakal melakukan sosialisasi ke desa adat-desa adat habitat anis merah yang membentang dari Jembrana, Tabanan, Buleleng, Badung, Gianyar, Bangli hingga Karangssem.

sa
PECINTA PUNGLOR MERAH: Tidak Harus Memiliki

Dari pantauannya, beberapa desa adat sudah menerbitkan awig-awig atau undang-undang desa adat yang melarang melakukan penangkapan dalam bentuk apa pun terhadap burung dewasa dengan sanksi yang amat berat. Pengambilan anakan punglor merah hanya dilakukan oleh pemilik kebun sendiri. Karena hanya boleh dilakukan pengambilan anakan di kebun sendirilah maka punglor merah sebagai sumber daya perekonomian bisa tetap terjaga. Karena, para petani akan menjaga betul habitat anis merah di kebunnya dengan melakukan pemanenan secara terbatas agar regenerasi indukan tetap terjaga. Begitu juga menyiapkan kandang sapi buat ketersediaan pakan cacing dan menanam buah-buahan seperti pepaya dan pohon cempaka.

sa
JIK CEKOL: Antara Hobi dan Pelestarian Mesti Seimbang

Alam ini bagaikan cakram yang terus berputar dalam ekosistem yang harmonis. Jika keseimbangannya hilang bukan tidak mungkin bakal terjadi bencana. Maka, sekecil apa pun yang dilakukan untuk alam, entah kapan maka akan memberi dampak besar bagi anak cucu kita. *kb3

Kanary Kraft

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here