Connect with us

Editorial

Murai Tores dan Cucak Hijau KR Tampil Hebat di Even Doa Bersama dan Santunan Anak Yatim Piatu Bersama PJII Jakarta

KONBUR Tayang

:

Lomba PJII Jakarta
Persaingan dikelas murai batu semakin seru

Murai batu Tores dan Cucak Hijau Keong Racun (KR) buktikan kehebatannya di lomba bertajuk Doa Bersama Kicaumania dan Santunan Anak Yatim Piatu Bersama Paguyuban Juri Independen Indonesia  (PJII) di lapangan Ciganjur Enterprise, Jl M Kahfii I, Gg Khayar, Ciganjur Jakarta Selatan, Jumat (12/4).

Lomba PJII Jakarta
Oman (kiri) sukses mengawal Murai Batu Tores ketangga juara

Gelaran lomba kali ini banyak menampilkan burung-burung bagus disetiap sesinya. Dikelas murai batu dominasi juara diraih Tores koleksi Onk Lee dari NzR, Burung yang siang itu dikawal Oman sukses dengan prestasi gemilangnya, bahkan penampilannya yang on fire nyaris saja dia meraih double winner.

Lomba PJII Jakarta
Munthu dan rekan Trokbul SF tampilkan Cucak Hijau KR

Diturunkan dikelas Murai Batu 40 K aksi Tores langsung melejit, dengan kualitas materi irama lagu yang dimilikinya dia berhasil mengungguli Danger dan Jimat masing-masing harus puas menempati urutan kedua dan ketiga.

Pada sesi selanjutnya, kembali Tores diturunkan, namun sayangnya, dalam pengumpulan poin penilaian dia harus menerima kekalahan dari Koboi milik Zaidan dari Tarzan BC. Kalah selisih tipis bendera koncer dia harus puas menempati posisi runner-up.

Lomba PJII Jakarta
Juri PJII asuhan Jhon Dayat

Namun, demikian dengan perolehan gelar juara  1 dan 2 menunjukan burung ini memang hebat dengan kualitas materi lagu, durasi dan kestabilan kerjanya yang luar biasa.

Persaingan dikelas cucak hijau juga tidak kalah serunya. Disesi pertama kelas ini menampilkan aksi Keong Racun orbitan Munthu dari Trokbul SF. Dia berhasil mengantarkan KR menjadi juara terbaik dikelas tersebut.

Lomba PJII Jakarta
Farah Mutia bersama sang suami

Disesi Cucak Hijau 40 K, KR unggul atas Kaisar milik Ompong dari CBR Cipete juara kedua dan Bondol koleksi H Parno diposisi tiga besar. “Dulu burung ini sering juara di blok tengah, Manahan Solo, sudah setahun ini ditangan saya, juga  masih tetap prestasi,” terang pemiliknya.

Even ini diawali dengan menggelar acara sosial berupa Doa Bersama Santunan Anak Yatim Piatu yang dihadiri tokoh dan pemuka agama dari lingkungan setempat.

Baca Juga  Dibuka Kelas Losgan  Setiap Kamis dan Sabtu Malam Minggu di Menteng Enterprise Taman Radja Jaksel
Lomba PJII Jakarta
Santunan Anak Yatim Piatu dan Doa Bersama

Ini merupakan kemasan kerjasama PJII, Ciganjur Enterprise bersama Farah Mutia Calon Anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta. Farah Mutia atau Farah Opik merupakan caleg dari PKB  No urut 5 untuk Daerah Pemilihan Jakarta Selatan (Tebet, Pancoran, Mampang Prapatan, Pasar Minggu, Jagakarsa). Lomba yang diketuai Jhon Dayat dari PJII ini berlangsung lancar dan sukses, menurut panitia tidak kurang dari hampir 500 tiket terjual digelaran hari itu.  “Terimakasih atas dukungan semua pihak sehingga lomba dan acara santunan ini berlangsung lancar dan sukses,” jelas pihak panitia. *kb4.

Lomba PJII Jakarta
Kliik untuk memperbesar Daftar Juara.

Editorial

Walikota Cup VI 2018 Banjarmasin, Tokoh Gaek Banyak Turun, Juara Tetap Debutan Baru

Published

on

By

Kontes Burung Banjarmasing
Tokoh lama Banjarmasin Oget, Titi Naga, H. Dian, H. Hakim, Joko Sutet RI, H. Faruq, saat kumpul di lomba.

Minggu (16/9) cuaca kota Banjarmasin terlihat cerah dan sedikit panas, meski demikian para penggemar burung dari beberapa pelosok kota Banjar tetap datang memenuhi Screen House Kantor Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Jl. Pangeran Hidayatullah Banua Anyar Banjarmasin. Mereka cukup antusias menghadiri lomba bertajuk Walikota Cup VI 2018 yang dijuri oleh Rajawali Even Organiser Banjarmasin.

Pasalnya jarang even yang cukup besar digelar di kota Banjar, makanya ketika ada gelaran banyak kicaumania yang meluruknya, termasuk kicaumania dari luar kota Banjarmasin. Bahkan tidak sedikit juga tokoh burung Banjarmasin ikut turun meramaikan lomba yang dihadiri oleh Walkota Banjarmasin H.Ibnu Sina.

Love Bird Roxy milik Alim awali Juara 1 kelas bergengsi.

Meski burung-burung mereka tidak tembus juara, tapi mereka mengaku senang, karena kehadiranya bisa bertemu dengn tokoh burung lama yang cukjup lama tidak jumpa. Seperti yang disampaikan Hakim, tokoh yang lebih sepuluh tahun absen dilomba mencoba turunkan murai boneo dan kenari, semua tidak masuk karena memang kurang kerja, tapi pria tinggi besar tersebut mengaku senang, bahkan ia menyampakan pesan bahwa lomba tidak harus menang, yang penting senang bisa ketemu teman.

Ilham Putra H. Dian juarakan Cucak Hijau Naga Bonar

Untuk jalannya omba sendiri yang dimulai dengan kelas Love Bird, jagoan bernama Roxy milik Alim dari Cahaya 8 BC sukses mengalahkan banyak lawan, trecetan panjang dan rajin membuat Roxy mengumpulkan point terbanyak.

Murai Batu Atom milik Auwe juara 1 di kelas Murai pertama.

Main kedua kelas Cucak hijau gantangan full, burung yang turun luar biasa kualitasnya, rata-rata kerja semua dan power serta lagunya cukup pangjang-panjang, cukup sulit untuk menentukan juara sepuluh besar, tapi ada sosok burung yang terlihat istimewa karena tampak seperti tak punya capek, gaya ngedrok dan lagu panjang tak pernah berhenti, itulah burng bernama Naga Bonar milik H.Dian yang dibawa putranya Ilham yang berhasil masuk juara satu.

Miss Zihan juarakan Murai Batu Gundala miliknya.

Sementara dikelas Murai Borneo juga sama, gantangan full dan burung banyak kerja semua, power, gaya, dan lagu hampir semua burung menunjukkan kelebihannya, baru mendekati akhir penilaian burung milik Auwe yang diketahui bernama Bom Atom sukses melengserkan banyak lawan. Dikelas berikutnya tak jauh beda, banyak jawara yang muncul mengejutkan lawan, termasuk cucak Hijau Cuban Rondo dengan gaya ngotot dan lagu yang panjang menjadikan jagoan milik Dwi asal Sampit berhasil tembus juara satu.

Titi (baju putih) selaku sponsor lomba ini bersama pakan burung dari Surabaya

Yang mengagetkan lagi dikelas murai Borneo kedua, tiba-tiba muncul burung yang dari awal kelihatan kerjanya cukup ngotot, pandangan peserta tertuju padanya pasalnya kerja seperti tak pernah kehabisan napas, dan nomor berada dipinggir sehingga jelas sekali. Burung yang akhirnya diberi koncer A mutlak tersebut ternyata milik seorang wanita bernama Mis Zihan asal Banjarmasin dan burungnya bernama Gundala.

Baca Juga  Mr.Yusuf Chen Jakarta: Murai "Dragon King" Istirahat,  Luncurkan "Datuk Sakti"

Even yang melombakan 32 kelas disupport oleh Toko Hoby Banjarmasin dan pakan burung kenamaan asal Surabaya, berjalan lancar tanpa ada protes yang berarti hingga selesai sekitar pukul 20.00 WIT. Semoga dengan kesuksesan lomba Walikota Cup VI kemarin, kedepan bisa disusul even-even yang lebih besar lagi agar dunia perburungan Kaltim kembali ramai.

Lanjutkan Membaca

Editorial

Permen LHK no.20/2018 sebuah “Kepanikan” Pemerintah?

Published

on

By

Wahyu Dwi Widodo

Munculnya peraturan Mentri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen), tanggal 11 Juli 2018. Telah mengagetkan masyarakat kecil yang mengandalkan mata pencahariannya di dunia burung. Mulai dari pedagang burung, pedagang pakan, pengrajin sangkar sampai masyarakat yang selama ini suka memanfaatkan burung sebagai hobi untuk lomba.

Bagaimana tidak, tanpa ada sosialisasi tiba-tiba dalam Permen tersebut memasukkan beberapa burung jenis yang selama ini banyak diperdagangkan untuk lomba kedalam daftar burung yang dilindungi.

Inilah yang meresahkan masyarakat perburungan, ditambah dengan adanya kabar penindakkan seorang pedagang burung Cucak Hijau di Banyuwangi, yang kemudian tersebar luas lewat Medsos. Membuat orang mulai takut memelihara kedua burung tersebut. Akibatnya pasar burung dibeberapa daerah terlihat lenggang. Pedagang maupun penghobi burung yang biasa jual beli antar pulau melalui bandara sudah tidak bisa. Karena karantina sudah melarangnya, meskipun burung tersebut ada ring.

Dan dampaknya pun langsung dirasakan oleh banyak pihak, wajar kalau mereka menyuarakan penolakan Permen 20/18 melalui demo dibanyak daerah. Karena konsekwensi diberlakukanya Permen 20/18 cukup luas dan dampaknya nanti sangat memberatkan para pedagang dan peternak. Misalkan peternak, harus ada ijin lingkungan, harus punya SIUP, harus punya NPWP dan persyaratan lain yang memberatkan.

Kalaupun akhirnya perijinan nanti dijanjikan akan dipermudah semuanya melalui online. Itu kan masih janji. Harusnya infrastruktur perijinan dimudahkan dulu, pembinaan pada peternak diberikan, sosialisasi pada pedagang digencarkan. Baru kalau peternak, pedagang, kicaumania sudah siap, silahkan Permen diberlakukan, bukan dibalik seperti sekarang yang sepertinya memperlihatkan “kepanikan pemerintah” dalam upaya menjaga pelestarian burung dihabitat aslinya.

Penebangan hutan liar, sangat merusak ekosistem

Padahal kalau pemerintah mengetahui bagaimana populasi Murai Batu dipeternak, barangkali tidak akan memasukkan Murai Batu dalam daftar burung yang dilindungi. Demikian pula dengan Jalak Suren atau Curik Bali. Populasi dimasyarakat sangat banyak, dan itu semua hasil jerih payah para penangkar yang nota benenya tidak pernah mendapat bantuan dana dari pemerintah, tapi pengapa mereka selalu jadi korban dari peraturan?

Baca Juga  Ini Dia Burung-burung Yang Tampil Cemerlang, di Anniversary Iqbal Rossi Tangsel

Kalau Pemerintah berkeinginan menambah populasi ketiga burung tersebut dihabitat aslinya tidak harus dengan Permen, minta saja atau beli atau terbitkan aturan yang mewajibkan peternak menyisihkan berapa persen dari hasil tangkaran untuk dilepas liarkan, saya yakin peternak dengan senang hati memberinya. Dan kalau itu dilakukan dalam waktu singkat hutan tersebut akan menjadi seperti kebun binatang, karena ribuan jumlahnya.

Ingat, keinginan melestarikan burung itu bukan hanya pemerintah saja. Peternak, penghobi bahkan organisasi diperburungan sebenarnya juga punya keinginan yang sama. Yaitu ingin ikut berpartisipasi dalam melestarikan burung agar dihabitat aslinya tidak punah. Tapi dengan munculnya Permen 20/18 itu kok seakan-akan mengambat kretifitas peternak yang ingin mengembangkan usahanya, dan seakan akan yang menjadi sasaran masyarakat kecil.

Andaikata pemerintah mau belajar dari diterbitkannya Undang-Undan no.5 tahun 1990. Dimana Curik Bali, kemudian Jalak Suren masuk dalam daftar burung yang dilindungi. Tapi nyatanya populasi dihabitat aslinya tidak meningkat sebagaimana yang diharapkan. Padahal dana konservasi yang digelontorkan pemerintah untuk melestarikan Curik Bali tiap tahun sejak tahun 90 an cukup besar.

Demikian pula yang ditangkarkan di kebun binatang atau badan konservasi yang mendapat ijin pemerintah. Hasilnya juga tidak sebaik oleh yang dilakukan banyak peternak, yang lepas dari bantuan dan binaan pemerintah. Andaikata tahun 90 an peternak Jalak Bali dipermudah ijinnya dan dibantu pendanaan serta pemasaranya. Bukan tidak mungkin, Jalak Bali yang langka saat itu, sekarang sudah diperjual belikan seperti ayam kampung dipasar. Hal itu karena populasinya yang sangat banyak dan harganya tentu sudah murah.

Hutan yang asri, ekosistem akan terjaga dengan baik

Kemudian masih ingat kita ditahun 2004 saat boming Jalak Suren, sampai sepasang indukan bisa tembus Rp 8 juta. Anakan makan sendiri bisa sampai Rp 1 juta lebih. Saat itu ratusan peternak di Solo, Klaten, Jogja, Salatiga dan kota-kota lain di Jawa timur, Bali banyak yang sukses. Dan mereka mendapat indukan dari hasil penangkaran, bukan dari tangkap dihutan. Begitu cepatnya anakan yang dihasilkan para peternak hingga membuat over produksi. Yang barakhir produk ternakan meluber dimasyarakat, sampai pasar jenuh dan harga kembali melorot tajam. Dimana peran pemerintah saat itu?

Baca Juga  Mega Latber Ra One Enterprise Jakarta, Tiket Murah Peserta Meriah

Lagi-lagi andaikata booming Jalak Suren saat itu tidak ditangkap pemerintah. Sebagai momentum untuk melestarikan dihabitat aslinya. Dengan melepasliarkan hasil tangkaran di habitat aslinya, saya yakin hutan di jawa akan penuh dengan Jalak Suren.

Kembali pada Permen 20/18, kalau pemerintah ingin menjaga pelestarian burung sebenarnya banyak cara-cara kompromi atau cara elegan yang bisa ditempuh, tidak harus menerbitkan Permen pelarangan. Karena kalau langsung mengelurkan peraturan pelarangan kok sepertinya pemerintah cari mudahnya saja. Seakan tutup mata dengan semangat para peternak dalam membantu pemerintah melestarikan burung kicauan. Menutup mata terhadap semangat beberapa organisasi Pelestari Burung yang ikut mengkampanyekan pelestarian burung dengan membina peternak, menyalurkan hasil tangkaran agar bisa diterima dilomba dan sebagainya.

Alangkah bijaknya bila Permen 20/18 tersebut untuk sementara dicabut, diganti dengan langkah nyata pemerintah mendorong, membina dan membantu para peternak. Dalam menangkarkan burung-burung yang akan punah. Saya yakin peternak kita peternak handal, meski mereka bukan ahlinya di dunia burung, tidak memiliki titel sarjana didunia hewan. Tapi keterampilan mereka dalam menangkar bisa melebihi seorang ahli burung. Bahkan sudah dibuktikan banyak penangkar Jalak Bali yang sukses melebihi keberhasilan Kebun Binatang atau lembaga konservasi yang mendapat ijin pemerintah.

* Wahyu Dwi W. (penulis adalah kader konservasi sumberdaya alam tingkat madya no.16.723/05/257/D.26/II/89. Anggota Klub Indonesia Hijau, penggemar Bird Waching, Rimbawan, pimred tabloid Agrobur)

Lanjutkan Membaca