Mahfud Pedagang Sangkar Malang Punya Koleksi Sangkar SIP

Mahfud dikiosnya dipajang sebagian sangkar SIP dan sangkar harian

Kontesburung.com – Pada tahun belakangan ini lomba burung sudah kurang perhatian pada sangkar. Beda dengan tahun 90 an hingga 2000 an, dimana lomba burung tidak sekedar melombakan burung, tetapi juga ikut tanpa disadari ikut memamerkan keindahan dan kehalusan ukiran dan finishing sangkar bagi burung kesayangannya.

Karena lomba pada waktu itu cukup ramai dan para kicaumania juga banyak yang menggunakan sangkar ukir, maka tidak heran bila lomba saat banyak perhatian peserta  bukan hanya memperhatikan burungnya tetapi juga sangkarnya. Karena saat itu memang banyak sangkar ukir yang indah indah dengan berbagai macam warna majupun motif.

Dari banyak sangkar ukir buatan Solo, diawal tahun 2000 an ada sangkar ukir yang cukup terkenal dan waktu itu harganya terjangkau karena dibawah sangkar ukir buatan Solo. Namanya sangkar SIP produksi Gunawan Surabaya, sangkar yang dibuat dari jati tua dan diukir oleh pengukir jepara dipadukan finisingnya menggunakan aneka warna terang yang kontas dengan cat airbrush ini sempat mendominasi pasaran sangkar di tanah air. Bahkan untuk mendapatkan sangakar SIP ini pemesan harus rela menunggu inden / pesan dalam waktu yang lama. Hal itulah salah satu yang menjadi kebanggaan bagi pemilik sangkar SIP waktu itu, bahkan banyak juga kicaumania yang mengkoleksi.

Seiring dengan bergesernya budaya lomba yang mulai menggunakan sangkar harian, kini sangkar ukir SIP dan sangkar ukir lain, sudah tidak tampak dipakai dilomba. Tapi kalau ada yang minat ternyata masih ada yang jual, yakni Mahfud pedagang sangkar di pasar burung Splindit Malang. Pedagang Sangkar yang sudah puluhan tahun ini ternyata memiliki barang dagangan sangkar SIP dan beberapa sangkar ukir buatan Solo.

Mahfud mendapatkan dari kicaumania senior yang sudah tidak mungkin lomba, karena usia sudah tidak memungkinkan. Makanya sangkar koleksinya dilepas untuk dijual. Menurut Mahfud, harga pasaran sangkar bekas SIP  saat ini sekitar Rp 2,5 juta, padahal dulu barunya Rp 3,5 juta lebih. Dan Mafud bunya beberapa koleksi dengan beragam motif, hanya beberapa yang dibawa di kiosnya di PS Splindit.

Pria yang lebih dua puluh tahun berdagang sangkar ini, mengaku sejak pelomba berpindah ke sangkar harian, banyak produsen sangkar yang tutup dan banyak pengukir yang beralih profesi, akibatnya sekarang sulit mencari pengukir. Sehingga kalau ada pesanan menurut Mahfud sulit memenuhinya, karena harga tukang ukirnya makin mahal secara langsung akan menaikkan harga sangkarnya. “Saran saya kalau ingin mengkoleksi sangkar ukir, lebih baik beli yang bekas tapi masih bagus. Banyak sangkar lama yang kondisinya seperti baru, karena sangkar ukir biasanya hanya dipakai saat berangkat lomba. Kalau dirumah umumnya burung pakai sangkar harian,” terang pedagang sagkar asli Malang.

Khofifah Cup 1

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here