Kopdar SMM Surabaya – Penjurian Lebih Transparan, Mak Paek Juara Di Sesi Pembuka

Rasa nyaman dan asyiknya berlomba benar-benar dirasakan oleh pecinta Murai Batu disetiap gelaran berlabel SMM (Seduluran Murai Mania) pada beberapa bulan terakhir ini, termasuk yang dikemas di gantangan Mahameru BC Surabaya, 10 Januari 2020 kemarin.

“Berlomba di SMM menjadi prioritas utama saya untuk ikut lomba burung saat ini, karena hanya di sinilah saya bisa merasakan kenyamanan berlomba karena saat penilaian berlangsung tidak ada satu pun teriakan maupun tepuk tangan peserta. Bahkan walau hasil akhirnya saya nanti harus pulang dengan tangan kosong sekalipun saya tetap puas dan legowo, sebab lomba di sini benar-benar fairplay,” ungkap Bambang Honda BHS BF yang nyaris tak pernah absen untuk terus mengikuti gelaran SMM yang digelar nyaris tiap 2 minggu sekali itu.

Hal senada juga dirasakan Dwi Jalu SF Kediri yang tak tak pernah melewatkan setiap gelaran SMM sejak awal digelar pada bulan Juni 2020 silam. “Kayaknya hakekat seduluran kicaumania hanya bisa ditemukan di sini, karena si pemilik atau pun sang joki bisa berbaur jadi satu sembari menikmati kopi plus merasakan nyamannya berlomba,” ucapnya seraya mengatakan bahwa dengan dibatasinya jumlah peserta yang hanya G24 plus tidak adanya teriakan dari peserta sehingga yang terdengar hanya suara burung, menjadikan juri akan lebih berhati-hati dan maksimal dalam menentukan burung juara.

Pembahasan tentang SMM dan evaluasi seusai gelaran

Menariknya lagi bila pada gelaran SMM sebelumnya, evaluasi terhadap perlombaan serta kinerja juri yang bertugas dilakukan langsung oleh para punggawanya yang dikomandoi Abah Tatuk, maka pada SMM Surabaya kali ini dilakukan bebarengan bersama anggota SMM lainnya sembari kopdar di Whiz Prime Hotel Darmo Harapan Surabaya yang dimulai sesaat usai berakhirnya lomba.

“Emang sangat perlu bagi semua gelaran SMM untuk dilakukan review terhadap jalannya pertandingan demi menjaga rasa nyaman para peserta. Bahkan kita mencoba agar penilaian yang dilakukan juri bisa berlangsung setransparan mungkin, salah satunya dengan diwajibkannya semua juri yang bertugas untuk memberi catatan berupa alasan utama dibalik keputusannya dalam menentukan burung koncer, ” ujar Indra Asa BF saat memberikan uneg – unegnya di depan anggota SMM lainnya.

Hadirkan SPG

“Dari situlah kita ingin agar juri-juri yang bertugas di SMM adalah juri – juri pilihan yang memiliki loyalitas yang cukup tinggi ke SMM dan memiliki kemampuan yang sangat baik dalam melakukan penilaian,” saut Abah Tatuk yang didampingi punggawa SMM seperti Abah Hudan, Indra Asa BF dan Apank.

Yup, selain mengevaluasi kinerja juri, beberapa obrolan penting terkait perkembangan SMM kedepan juga menjadi pembahasan menarik. Mulai dari adanya usulan dijadikannya SMM sebagai EO yang berbadan hukum, dibentuknya korwil di beberapa wilayah di Jatim hingga pembatasan jumlah anggota sampai pembatasan jumlah kelas atau sesi dalam satu perlombaan SMM.

Dan untuk penambahan anggota SMM, Abah Hudan pun mempersilahkan kepada siapa pun yang ingin gabung. “Ya asalkan calon anggota ini memiliki attitude yang baik dan mau mematuhi segala aturan di SMM, ” ungkap Abah Hudan 911 SF seraya mengatakan agar sekiranya para anggota juga bisa menjaga nama baik SMM di berbagai even yang dikemas EO-EO yang ada di Tanah air.

Hal itu juga diiyakan oleh Apank ABS, bahwa sampai hari ini sebenarnya masih banyak yang ingin bergabung dengan SMM, namun doi berharap agar untuk jumlah anggota sebaiknya ada pembatasan mengingat terbatasnya jumlah sesi yang hanya maksimal 8 kelas dengan jumlah peserta maksimal G25.
“Saya sih sangat setuju jika akan dibentuk korwil-korwil yang tersebar di beberapa daerah di Jatim, jadi saya berharap agar lomba SMM bisa digelar secara bergantian di beberapa daerah dan tak hanya melulu di area Surabaya sekitarnya, ” imbuhnya.

Tim Abah Zaki (kaos kuning) juara di sesi pembuka

Sementara itu, persaingan untuk meraih podium juara pada gelaran kali ini pun tak terelakkan lagi. Dimulai di sesi pertama. Aksi menawan sempat ditunjukkan burung di nomer gantangan 16 yang tampil khas dengan sujud-sujud serta sesekali mengeluarkan tembakan panjang itu menjadikannya sebagai perhatian dari publik Murailovers yang turut menyaksikan kestabilannya dalam perform. Sayangnya, burung andalan Mr Deny Den Bagoes itu terpaksa didiskualifikasi lantaran memakai balutan kain di gantungannya.

Sehingga peluang itu pun setidaknya mempermulus jalan Mak Paek amunisi Abah Zaky TB Sidoarjo untuk merebut tahta juara. Apalagi sejak awal digantangkan, burung yang menempati nomer gantangan 15 itu handal dalam memainkan lagu-lagu isian mulai dari Cililin, Lovebird hingga Greja dengan tembakan yang cukup panjang-panjang.

Kanary Kraft

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here