Komunitas Cucak Ijo Mojokerto, Disatukan Rasa Penasaran Terhadap “Si Abu Nawas”

Cucak Ijo Mojokerto
KCIM. Komunitas Cucak Ijo Mojokerto, penasaran terhadap si Abu Nawas
Cucak Ijo Mojokerto
KCIM. Komunitas Cucak Ijo Mojokerto, penasaran terhadap si Abu Nawas

CUCAK Ijo (Hijau) punya pengemar tersendiri di kalangan penghobi burung kicauan. Burung ini mendapat julukan burung penuh misteri, dan sebagian lagi menjulukinya si Abu Nawas karena sering memberi harapan palsu.

Komunitas Cucak Ijo Mojokerto (KCIM) di dunia maya punya anggota yang cukup banyak. Namun, di anggotaan dunia nyata komunitas yang baru dibentuk sekitar setahun yang lalu itu hanya punya anggota tak lebih dari 50 orang. Tidak hanya berasal dari Mojokerto, namun ada pula yang datang dari Sidoarjo, Surabaya dan Jombang.

Kontes Burung Mojokerto
Latber di AM BC Mojosari. Cucak Ijo tiga kelas penuh peserta

Meski jumlah anggota tidak banyak, tapi pengemar burung ini boleh dibilang cukup fanatik. Meski burung ini kalah tren dengan burung yang lain, tapi mereka tetap setia dan tidak pindah ke lain hati.

“Cucak Ijo itu penuh misteri, di rumah atau saat kita beli dari seseorang suaranya bagus, namun saat dibawa ke gantangan ia bisa tidak mengeluarkan bunyi sama sekali,” ujar Syamsul, pengemar Cucak Ijo asal Trawas, Mojokerto.

lomba burung
KCIM. Ajang tukar pengalaman dan menjalin pertemanan

Penangkaran burung ini juga terbilang susah, sebab ia sangat sensitif terhadap lingkungan sekitarnya. Dalam keadaan sudah menetas, jika lingkungan berisik anaknya bisa dipatuk sampai meninggal.Karena bisa dibilang susah untuk diternakkan itulah Syamsul berniat menangkarkannya.

Jika Syamsul menyebut Cucak Ijo penuh misteri, Iron, Ketua Komunitas Cucak Ijo Mojokerto menyebut burung ini sebagai si Abu Nawas. Hal ini mengacu pada sifat burung ini yang sering memberikan harapan palsu, begitu sampai di perlombaan ia sering ngadat karena hal yang tidak jelas. Mirip sifat si Abu Nawas yang banyak akal dan sedikit menipu untuk mengelabui seseorang.

Disatukan rasa penasaran terhadap burung ini, sekaligus untuk tempat bertukar pengalaman dan menjalin keakraban, maka KCIM dibentuk. KCIM menurut Iron sebagai wadah pengemar Cucak Ijo agar semakin paham terhadap hewan peliharaannya.

“Cucak Ijo termasuk burung yang stabil secara tren dan harga,” ujar Iron. Di daerah Trawas, Pacet, dan Mojosari, Mojokerto, latber di kelas Cucak Ijo selalu banyak pengemarnya, meski harus diakui masih kalah dengan Lovvebird. Di gantangan AM BC Mojosari, yang dilihat KONTESBURUNG.COM, misalnya, dari tiga kelas Cucak Ijo yang dilombakan, semuanya penuh peserta.

KCIM menurut Iron setidaknya mempunyai 3 burung andalan, yaitu Honda, Manja, dan Brutal, yang sering memenangkan kontes burung kicauan di gantangan di sekitar Mojokerto. “Semua orang yang gemar Cucak Ijo bisa menjadi anggota, namanya komunitas tidak ada aturan yang baku, bagi yang ingin menjadi anggota silakan masuk saja,” ujar Iron. ##

Khofifah Cup 1

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here