Kenari Wijaya, Tanpa Jeda Selalu Juara

Saat juara Runner up di Klaten Vaganza

Sylvian Adhi alias Copet SF, penghobi kenari asal Solo,  terlihat begitu mengebu siang itu. Teriakannya lantang terdengar,  kontras dengan piayama berwarna kuning yang ia kenakan, sangar tapi mengundang senyum. Hanya satu yang ia suarakan yakni Durex, stiker yang menempel pada sangkar kenari yang ia dukung. Teriakan Copet SF hampir tak pernah berhenti, berbanding lurus dengan aksi kenari disangkar Durex tersebut.

Wijaya, nama kenari tersebut, memang tampil edan. Volume suara kenari berpostur kecil ini seolah melumat suara rival-rival disampingnya yang rata-rata berpostur gede. Hebatnya, sepanjang pertandingan Wijaya tak pernah jeda memainkan lagunya. Nadanya pun tak monoton, asyik untuk didengar.

Menilik performanya,  kontesburung.com yang saat itu ikut menyaksikan laga ini memprediksi Wijaya bakal naik podium pertama. Well, meski tampil begitu impresif, prediksi itu sedikit meleset, Wijaya harus puas duduk sebagai runner-up. Itulah sepenggal kisah di gelaran Klaten Vagansa 19 Juli 2020 silam, tensi tinggi dan sarat gengsi.

Beberapa pekan kemudian, tepatnya di perhelatan Anniversary Mustika PG 2 Boyolali, Wijaya kembali menorehkan prestasi gemilang. Meski kali ini tidak disupport langsung oleh Copet SF, Wijaya tetap terlalu tangguh bagi lawan-lawannya.  Tak tanggung-tanggung, Wijaya menjadi nomor wahid di dua kelas yang disediakan panitia alias mencetak dobel. Prestasi ini seolah menegaskan bahwa Wijaya sebagai salah satu kenari papan atas di Solo Raya.

Candra (kiri) dengan kenari Wijaya yang mendulang prestasi tanpa Jeda

Bicara mengenai performa, mana yang lebih bagus, di Klaten Vagansa atau Boyolali?Candra, perawat sekaligus pengawal Wijaya menghela nafas sejenak untuk menjawabnya. “Kalau mau jujur, penampilan Wijaya paling hebat ya di Klaten Vagansa, lagu panjangnya berdurasi hingga satu menit, sangat maksimal. Menjadi 3 besar saja saya sudah sangat bersyukur, soalnya skala-nya nasional. Performa Wijaya waktu di Pengging, Boyolali juga sangat bagus. Burung ini tidak perform pun akan terus berbunyi, soalnya konslet,” kata Candra blak-blakan. Lebih jauh Candra mengatakan kalau untuk skala lokal, kemampuan Wijaya berolah vokal masih bisa dijagokan, namun untuk menjadi yang pertama di even nasional sangatlah sulit. “Berat,” kata Candra sembari ngakak.

Dari Klaten Vagansa itulah kepemilikan Wijaya berpindah tangan, dari Mr. Yoyok ke Didha, warga Polanharjo Klaten. Banderolnya tergolong murah yakni 7,5 juta rupiah saja. Hanya saja , nilai tersebut tentu bakal meroket seiring dengan makin melambungnya prestasi Wijaya.

Meski berpindah bos, pengawalan serta perawatan Wijaya masih dipegang oleh Candra. Itu karena bapak dua anak inilah yang pertama kali mengorbitkan Wijaya. Didha tentu tak ingin performa Wijaya rontok gara-gara ganti perawat. “Selama saya pegang burung, Wijaya lah yang paling stabil perform-nya. Inilah yang saya suka dari dia,” puji pria berusia 27 tahun ini.

Ceritanya, dulu, waktu masih jadi owner Mr.Yoyok, Wijaya kurang ngedur alias tak ada greget bila harus berhadapan dengan rival-rivalnya. Mr. Yoyok pun kemudian menyerahkan Wijaya kepada Candra agar di tune up, biar akselerasi suaranya  mumpuni. “Saya mau menangani Wijaya karena saya lihat dia memiliki potensi untuk diorbitkan.  Sedikit sentuhan saja pasti jadi  ” kisah lelaki penyuka olah raga tepok bulu ini.

Tak pakai lama, Wijaya pun mulai menunjukkan talentanya, durasinya bertambah panjang seiring dengan waktu. Rahasianya, Candra memakai untul untuk memancing Wijaya agar keluar durasinya. Syaratnya, Wijaya cocok dengan untulnya, jadi waktu dicampur jadi satu tidak berantem. “Setelah saya pakai untul, Wijaya selalu juara ketika saya tenteng ke arena lomba, tidak pernah meleset,” cerita Candra. Inspirasi tersebut didapat lantaran Candra adalah mantan pemain pleci.

Selain pemakaian untul, Wijaya juga mengkonsumsi vitamin yang bikin stamina tambah panjang dan suara lebih kenceng. Vitamin itu belum diproduksi secara masal. “Mungkin suatu saat bakal saya promosikan,” ujar Candra sembari tersenyum.

Mengenai perawatan dan menjelang lomba hampir sama. Bedanya hanya soal extra food saja. Jelang lomba, jagung gambas dan sawi sendok atau pakcoy diberikan kepada Wijaya untuk menambah tenaga. Selain itu, dua sesi sebelum turun gelanggang, Wijaya dipisah dari untulnya. Bila semua itu dilakukan, Wijaya bakal tampil mempesona.

Sayangnya aksi Wijaya yang fenomenal tersebut untuk sementara tidak bisa kita nikmati. Baru-baru ini Wijaya menjatuhkan 2 bulu besarnya. “Biar istirahat dulu,” pungkas Candra. yon.

Kanary Kraft

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here