Jelang New Normal, Pasar Depok Solo Mulai Bergeliat

Protokol kesehatan dipasang dipintu masuk pasar

KONTESBURUNG.com – Pagi itu Bagong, sebut saja begitu, terlihat sibuk melayani para pembeli. Dengan sebilah bambu kecil yang ujungnya diberi seutas tali rafia, beberapa kali dia menjerat burung-burung kecil yang diingini pembeli.

Hari itu pembeli berjubel mengelilingi beberapa sangkar dagangan Bagong yang berisi burung-burung ciblek gunung, pentet dan pleci. Satu per satu burung-burung tersebut laku.

Uang hasil penjualan pun terlihat bertumpuk memenuhi tas lusuh yang selalu setia menemani Bagong. Pria berbadan gempal itu memang beruntung hari itu.

Inilah potret terbaru pasar burung Depok Solo. Meski pandemi Corona masih menghantui, tapi suasana pasar di hari minggu terlihat mulai normal.

Kios pakan mulai rame didatangi konsumen

“Minggu kemarin malah lebih rame daripada minggu ini,” cetus tukang parkir yang memiliki lahan parkir di luar pasar. Parkir di dalam pasar memang sudah penuh.

Tak sekedar rame pengunjung saja, penjualan pun minggu demi minggu terjadi peningkatan. Tak heran bila pengunjung terlihat lalu lalang menenteng kertas semen berwarna coklat yang isinya burung.

Menurut Bagong bakalan cendet dia hargai senilai 70-80 ribu, ciblek gunung 80 ribu sedangkan pleci banderolnya sebesar 125 ribu. Bagong mengaku harga banderol tersebut sama sebelum virus covid 19 datang.

Bebas retribusi bagi pedagan, tapi ada sanksi yang melanggar

Dia enggan menurunkan harga lantaran sudah keluar biaya pakan yang cukup banyak. Dari pantauan kontesburung.com burung pleci hari itu lebih diminati pembeli.

Stabilnya harga juga diutarakan Yuli, pedagang yang memiliki kios didalam pasar. “Harga justru naik di tempat saya sebab sekarang ini pasokan burung sulit, burung jadi langka,” ungkap Yuli.

Terganggunya pasokan lantaran alat transportasi seperti bus jarang ada, yang banyak hanya truk dan travel. Padahal bila memakai jasa truk atau travel biayanya lebih mahal, alhasil harga pun naik.

Pembeli mulai rame pilih pilih burung dari pedagang

Ramainya pasar Depok di hari Minggu juga tak lepas dari banyaknya penghobi  dan pedagang ayam aduan. Selain  melakukan jual beli, mereka juga kadang mengadakan acara ngabar  ayam-ayam aduan mereka.

Dulu mereka menempati area jalan di sebelah utara pasar, kini mereka ada di sebelah barat dalam lokasi pasar. Selain mereka ada juga pedagang tanaman hias dan pedagang ikan hias yang juga ketiban rejeki di hari minggu setelah lebaran.

Banyaknya pengunjung yang menghabiskan waktu weekend di pasar ini otomatis meningkatkan omset mereka.

Meski mulai normal pada hari Minggu hari dan libur nasional, pada hari-hari biasa pasar Depok memang tidak terlalu ramai.

Wawan, pedagang yang memiliki kios di sebelah timur mengeluhkan penjualan yang sepi. Wawan mengakui bila omset pada hari minggu memang lumayan, tapi pada hari-hari selanjutnya pengunjung terbilang sepi.

Penjualan mulai pulih kembali

“Hari-hari biasa lebih banyak tidurnya,” ungkap pria yang hari itu ketiban rejeki lantaran beberapa burung Falk dan glodoknya diborong pelanggan.

Untuk mengurangi beban pedagang, pihak Pemkot Solo membebaskan retribusi pasar dan PKL dari 01 Mei hingga 31 Agustus 2020.

Nah, bila pasar burung Depok sudah menunjukkan indikasi pulih, akankah lomba burung juga akan menyusul?yon

Kanary Kraft

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here