Branjangan Solo Kembali Bangkit

BMSR bangkit lagi

KONTESBURUNG.com – Penggemar burung branjangan kota Solo yang tergabung dalam BMSR atau Branjangan Mania Kota Solo kembali bangkit. Usai ikut meramaikan dalam sesi pembukaan ranah kicauan gantangan Putra Soba, Ahad, 22 November 2020 mereka kembali berpartisipasi dalam gelaran bertajuk Road TO 2ND Anniversary Kicau Baturan Jilid 3.

Pada gelaran ini antusiasme penggemar-penggemar branjangan begitu besar. Penghobi-penghobi branjangan dari luar kota banyak yang  hadir pada perhelatan ini. Pak Dedek, sesepuh branjangan kota Solo menilai intern branjangan kota Solo saat ini sudah bersemangat lagi untuk menggelar lomba.

Siswanto, ketua BMSR, menceritakan bahwa atmosfir branjangan di Kota Bengawan memang pasang surut. Pada tahun 2018, ujar pria yang akrab disapa Leksis Solo ini,  BMSR sempat vakum selama setahun. Pada masa itu tak ada satu pun lomba branjangan, kegiatan mereka hanya berkisar pada gelaran latber.

Pak Dedek (kiri) ramaikan Branjangan

Setelah setahun rehat, BMSR bangkit kembali  ketika kota Solo menggelar lomba bergengsi bertitel Asha Solo Award pada 1 September 2019. Kala itu hampir seluruh penggemar branjangan di seluruh pelosok pulau Jawa ikut ambil bagian pada perhelatan ini. Dari gelaran inilah branjangan diharapkan dapat bicara lagi dieven-even berikutnya. Namun keinginan ini terpaksa harus ditunda sejenak lantaran wabah corona yang menyebar.

“Boleh dibilang even Anniversary Kicau Baturan Jilid 3 merupakan kebangkitan BMSR yang kedua. Puncaknya nanti pada even Piala Pradana yang digelar tanggal 31 Januari 2021 mendatang,” prediksi Leksis.

Yang pasti bila ada even-even seperti ini harga branjangan juga akan terdongkrak naik dan penghobi akar rumput juga bakal tumbuh. Sekedar catatan, menurut Leksis, rekor harga termahal branjangan saat dipegang oleh branjangan milik Edu Sianturi, penggemar branjangan asal Jogja dengan banderol sekitar 500 juta perak. Leksis menambahkan bahwa penghobi asal Solo sebenarnya juga tak kalah berani soal meminang gacoan. “Punya mas Jardan dulu dibeli dari orang Jogja senilai 40 juta rupiah. Mas Gugun juga beli seharga 42  juta rupiah,” tambah Leksis.

Tak heran bila Bapak dua anak ini sangat merindukan kompetisi branjangan seperti dulu dimana sesion branjangan selalu dipenuhi burung yang digantang.  Tidak usah dengan nama komunitas pun sesion branjangan sudah ramai.  “Pada waktu ini, untuk meramaikan sesion branjangan kami memang masih merangkul para penggemar branjangan agar ikut berlomba,” ungkap Leksis.

Saat ini BMSR memiliki  sekitar lima belas orang anggota aktif.  Adapun anggota yang masih pasif  jumlahnya sangat banyak. “Mereka kadang ikut kadang tidak. Tapi saya rasa keaktifan mereka hanya masalah waktu saja,” tambah Leksis. Tak heran bila BMSR memiliki banyak amunisi untuk berlaga baik di luar kota maupun ketika menjadi tuan rumah. Pada laga Anniversary Kicau Baturan Jilid Tiga, gaco-gaco BMSR tampil memukau seperti Raja Rimba, Sapu Jagad dan Werkudoro. Selain ketiga jagoan tersebut BMSR juga memiliki gaco yang tak kalah tangguh seperti misalnya Hanoman dan Bagong milik Mas Gugun dan Aventador milik Valentino Tony yang juga kerap berpenampilan memikat.

Tak hanya punya pemain handal, BMSR juga memiliki anggota yang sudah berhasil dalam bidang penangkaran yakni Athar. Athar adalah salah satu dari 88 penangkar di Indonesia yang sudah terbukti berhasil menangkar branjangan.

Bagaimana menemui paguyuban ini? Saat ini mereka memiliki base camp di shelter gantangan Pasar Depok, Solo.  Ditempat ini setiap hari selalu diadakan latihan dari mulai pukul dua belas siang sampai sore hari. Siapapun penggemar branjangan bisa melatih burungnya disini. “Monggo para penggemar branjangan. Kita berlatih disini sambil ngopi. Selain santai bisa juga nambah relasi,” ajak Leksis, tersenyum. Mari Ngopi. yon

Kanary Kraft

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here